Sunday, 26 April 2026

Bengkel Iman: Ketika Melewati Kuburan Tengah Malam, Gue Lakuin 1 hal dan Jin Minggir


Ketika Melewati Kuburan Tengah Malam, Gue Lakuin 1 hal dan Jin Minggir

 

Jam di HP gue 00.37.

Bukan cuma sepi—malam itu terasa mati.

Nggak ada suara kendaraan. Nggak ada orang. Bahkan suara jangkrik pun kayak hilang. Jalan yang gue lewatin cuma diterangi lampu kuning redup yang kedip-kedip, seolah mau mati kapan aja.

Dan di sebelah kiri… kuburan tua.

Bukan yang rapi. Nisan-nisannya miring, sebagian retak. Pohon besar menjulang, rantingnya kayak tangan yang nyari sesuatu di kegelapan.


Gue udah sering lewat situ siang hari. Biasa aja.


Tapi malam itu beda.


Baru masuk area itu, motor gue tiba-tiba terasa berat. Kayak ada yang nahan dari belakang.


Padahal gas udah gue tarik.


Pelan… banget.


Dan saat itu, gue mulai ngerasa… gue nggak sendirian.


Dari arah kiri, di antara nisan-nisan, ada suara.


Bukan langkah kaki.


Lebih kayak… sesuatu yang diseret.


Gesrek… gesrek…


Gue nahan napas.


Jangan nengok.


Jangan nengok.


Tapi ya itu… manusia.


Gue nengok.


Dan di situ… gue langsung nyesel.


Di antara nisan, ada sosok.


Bukan berdiri.


Dia jongkok.


Kepalanya nunduk, rambutnya panjang nutupin wajah. Tangannya panjang… terlalu panjang buat ukuran manusia.


Dan yang bikin darah gue dingin—


Dia lagi ngerangkak pelan ke arah jalan.


Gesrek… gesrek…


Motor gue tiba-tiba mati.


Mati.


Di tengah jalan itu.


“Astagfirullah…” gue panik.


Gue coba starter—nggak bisa.


Sekali. Dua kali. Tiga kali.


Masih mati.


Dan suara itu… makin dekat.


Pas gue angkat kepala sedikit—


Dia udah di pinggir jalan.


Pelan… dia ngangkat kepalanya.


Rambutnya kebelah.


Dan di baliknya… wajah pucat dengan mata hitam kosong yang langsung ngeliat gue.


Nggak berkedip.


Nggak gerak.


Cuma… ngeliat.


Dan saat itu juga, suara lain muncul.


Bukan dari dia.


Dari belakang gue.


Ada yang bisik.


Dekat banget sama telinga.


“Jangan… pergi…”


Gue beku.


Bener-bener beku.


Badan gue nggak bisa gerak, napas pendek, kepala rasanya penuh.


Dan di momen itu, gue inget satu hal.


Dengan suara gemetar, gue mulai baca doa bismillahi tawakkaltu 'alallohi laahaula walaa quwwata illa billah


Pelan.


Nyaris nggak kedengeran.


Tapi gue paksa.


Di awal… nggak ada yang berubah.


Sosok di depan masih di situ.


Bisikan di belakang makin jelas.


“Temenin… kami…”


Suara itu sekarang lebih dari satu.


Banyak.


Di kiri. Di kanan. Di belakang.


Semua bisik barengan.


Tapi gue nggak berhenti.


Gue ulang terus doa yang gue bisa


Lebih kuat.


Lebih fokus.


Dan tiba-tiba—


Semua suara… berhenti.


Mendadak.


Sunyi.


Gue buka mata.


Sosok di depan gue masih ada…


tapi sekarang dia mundur.


Pelan.


Tangannya yang panjang narik tubuhnya ke belakang, masuk lagi ke dalam kuburan.


Satu per satu… bayangan lain yang tadi nggak gue sadar, ikut mundur.


Banyak.


Lebih dari satu.


Mereka semua… mundur.


Seolah… ada sesuatu yang mereka takutin.


Detik berikutnya—


Motor gue nyala sendiri.


Tanpa gue starter.


Langsung hidup.


Gue nggak mikir panjang.


Gas gue tarik sekenceng-kencengnya.


Nggak nengok.


Nggak berhenti.


Nggak peduli apa pun di belakang.


Sampai akhirnya gue keluar dari jalan itu.


Dan baru berani napas.


Penutup


Sampai sekarang, gue masih nggak pernah lewat situ lagi kalau malam.


Buat yang bilang itu cuma halusinasi…


Mungkin.


Tapi satu hal yang gue yakin—


Malam itu, gue nggak sendirian.


Dan kalau gue berhenti baca doa waktu itu…


Mungkin gue nggak bakal nulis cerita ini sekarang.


dan ternyata arti dari do'a yang gue baca itu adalah

dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, sesungguhnya tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dari Allah

No comments:

Post a Comment