Saat usia Nabi Muhammad mendekati 40 tahun, beliau sering kali merenungi kondisi masyarakat disekitarnya dan menyadari banyak keadaan masyarakat yang tidak sejalan dengan kebenaran. Lantaran hal tersebut, beliau pun mulai sering uzlah (mengasingkan diri), beliau biasa ber-tahannuts di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur. Gua Hira adalah gua kecil yang lebarnya 1,75 dzira’ dan panjangnya 4 dzira’ dengan ukuran dzira’ hadid atau ukuran hasta dari besi
Nabi Muhammad membawa bekal air dan roti gandum, beliau tinggal di dalam gua tersebut. Di sana beliau menghabiskan waktu untuk beribadah dan banyak merenungi kekuasaan Allah di alam raya yang begitu sempurna. Selama perenungan tersebut, beliau juga semakin menyadari keterpurukan yang dialami oleh kaumnya. Banyak dari mereka yang terbelenggu dan tidak bisa terlepas dari keyakinan-keyakinan syirik. Namun, beliau belum memiliki jalan yang terang dan pedoman yang jelas mengenai bagaimana jalan yang harus ditempuh agar kaumnya bisa terbebas dan menjauhi belenggu kesyirikan.
Ketika uzlah, Nabi Muhammad memasuki tahun ketiga, saat itu beliau berusia 40 tahun, 6 bulan, 12 hari menurut penanggalan kalender hijriah. sekitar 39 tahun, 3 bulan, 20 hari menurut penanggalan kalender masehi. Tepatnya di bulan Ramadan, Allah mengangkat beliau menjadi nabi, ditandai dengan diutusnya malaikat Jibril turun dengan membawa wahyu pertama kepada Nabi Muhammad bagi umat Islam. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 Ramadan.
Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan berkata, “Bacalah!” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi kemudian menjelaskan, “Malaikat itu memegang dan mendekapku sangat kuat kemudian melepaskanku dan kembali berkata, “Bacalah!” Lalu aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Lalu malaikat itu kembali memegang dan mendekapku dengan sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Malaikat itu kembali memegangku lalu mendekapku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.” (Bukhari No.6982)
Setelah menerima wahyu di Gua Hira, Beliau saw. pulang dengan kondisi tubuh yang gemetar dan tergesa-gesa serta bergegas masuk ke rumah Siti Khadijah. Dengan kondisi tubuh yang gemetar, Nabi Muhammad saw. meminta kepada Siti Khadijah dengan berkata kepadanya, “Selimuti aku, selimuti aku.” Siti Khadijah pun menyelimuti beliau yang gemetar dan ketakutan. Kemudian Nabi Muhammad saw. bertanya, “Wahai Siti Khadijah, apa sebenarnya yang terjadi denganku ini?” Lalu Nabi Muhammad saw. menyampaikan kejadian yang telah beliau alami, “Aku sangat khawatir terhadap diriku.” Maka Siti Khadijah mengatakan, “Janganlah sekali-kali engkau takut, demi Allah, dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang selalu menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang yang kesusahan, pemberi kepada orang miskin yang membutuhkan, penjamu tamu, serta penolong orang yang menegakkan kebenaran.”
Setelah itu Siti Khadijah mengajak Nabi Muhammad saw. pergi bersama menemui Waraqah bin Naufal untuk menanyakan kejadian yang telah dialami oleh suaminya. Waraqah adalah saudara dari ayahnya Siti Khadijah. Dia merupakan pemeluk agama Nasrani sejak zaman jahiliah yang pandai dalam bahasa Arab sehingga telah banyak menyalin Kitab Injil ke dalam bahasa Arab. Namun, ketika itu usianya telah lanjut dan pandangannya sudah tidak jelas. Siti Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai paman, dengarkan kabar dari anak saudaramu ini.” Waraqah berkata, “Wahai anak saudaraku, apa yang terjadi kepadamu?” Beliau saw. menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Waraqah berkata, “(Jibril) ini adalah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa, Wahai Muhammad, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu.” Nabi Muhammad saw. bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya, pasti. Tidak ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau, kecuali pasti akan dimusuhi oleh orang. Jika aku masih menjumpai hari itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekuat-kuatnya.” Namun, tidak berselang lama dari kejadian tersebut, Waraqah bin Naufal telah meninggal dunia.” (Hadits riwayat Bukhari No. 6982).
Demikian sekilas kisah Nabi Muhammad saat menerima wahyu pertama di goa hiro

No comments:
Post a Comment