Friday, 28 February 2025

Mengenal Al-Qur'an dan Penjelasan Qur'an surat Al--Baqarah: 186

 Oleh : Sihab



AL-QUR’AN

MENGENAL AL-QUR’AN DAN PENJELASAN AL-QUR’AN SURAT AL-BAQAROH : 186

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Mohamad Sihabudin, M.Pd.

 

 

 

1.       PENGERTIAN AL-QUR’AN

Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril yang diawali dengan surat Al-Fatihah diakhiri dengan surat An-Nas menggunakan bahasa arab sebagai mukjizat Nabi Muhammad dan apabila dibaca bernilai ibadah.

Nabi Muhammad menjadi Nabi yang paling mulia karena mukjizatnya Al-Qur’an, Malaikat Jibril menjadi malaikat yang paling mulia karena tugasnya menyampaikan Al-Qur’an, Ramadhan menjadi mulia karena di bulan Ramadhan Al-Qur’an diturunkan bahkan di alam kubur yang gelap pun bisa menjadi terang apabila ada cahanya Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman hidup bagi manusia. Dalam prosesnya, Al-Qur’an sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas dan disepakati mayoritas ulama, diturunkan melalui dua fase.  Fase pertama disebut fase “inzali” yaitu turunnya Al-Qur’an secara global dari Lauhul Mahfudz menuju Baitul Izzah di langit dunia sebagai bentuk pengagungan terhadap Al-Qur’an. Fase kedua disebut “tanzili” yaitu turunnya Al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw selama 23 tahun sesuai dengan peristiwa yang terjadi (mempertimbangkan sebab turunnya). (Manna Al-Qathan, Mabahits fi ulumil Qur’an, tt [Kairo: Maktabah Wahbah], hal 96).

Berikut adalah pokok-pokok ajaran kitab Al-Quran sebagai pedoman hidup umat muslim dikutip dari buku Ketika Al-Qur’an Tak Lagi Diagungkan karya Muhammad Ilham Nur (2017:17).

1. Akidah

Akidah mengajarkan kepercayaan kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, serta hari akhir dan takdir. Keenam perkara tersebut dikenal sebagai rukun iman yang harus dipahami oleh seluruh umat muslim. Selain itu, Al-Quran juga melakukan pembuktian bahwa Islam adalah ajaran agama yang benar dan harus diyakini keabsahannya

2. Ibadah

Tujuan manusia hidup adalah untuk beribadah dan menyiapkan bekal saat di akhirat nanti. Oleh karena itu, di dalam Al-Quran terdapat sejumlah ibadah yang wajib sertan sunnah yang dikerjakan umat muslim.

3. Muamalah

Al-Quran menjalankan tentang muamalah dan hubungan sosial dalam bermasyarakat. Adapun prinsip muamalah adalah mengajarkan hubungan yang baik antar manusia, baik dalam keluarga, tetangga, maupun masyarakat secara umum.

4. Akhlak Mulia

Salah satu tujuan agama Islam adalah untuk menyebarkan akhlak yang mulia dan dalam Al-Quran sudah dijelaskan secara khusus mengenai akhlak-akhlak tersebut.

5. Sejarah

Dalam Al-Quran dijelaskann tentang kisah dan cerita umat terdahulu serta memberikan beberap prediksi masa depan, seperti kejatuhan Romawi dan ekspansi ke bulan.

6. Syariat

Al-Quran juga berisi tentang syariat, hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan ibadah, sosial, politik, dan lainnya.

 

2.       PENJELASAN AL-QUR’AN SURAT AL-BAQAROH AYAT 186

Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemahan, sababun nuzul dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas surat Al-Baqarah ayat 186:


 وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Wa idzā sa'alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da‘watad-dā‘i idzā da‘āni falyastajībū lī walyu'minū bī la‘allahum yarsyudūn.

Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Sabab Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 186 Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya menyebutkan riwayat terkait sebab turun Al-Baqarah 186.

Sebab turun ayat ini dikatakan, suatu ketika orang Badui datang menemui Nabi Muhammad saw dan berkata: “Apakah Tuhan kita dekat, sehingga kita berdoa dengan lirih atau jauh, sehingga kita berdoa dengan lantang?”, Kemudian Allah menurunkan ayat ini.   Diriwayatkan dari Qatadah dan ulama lainnya bahwa sahabat pernah bertanya kepada Nabi: “Bagaimana kami berdoa kepada Tuhan kami wahai Nabi Allah? Apakah dengan berbisik atau dengan memanggil lantang?” Kemudian Allah menurunkan ayat ini.   Atha’ dan ulama lainnya berkata, bahwa sahabat bertanya: “Di mana Tuhan kami?” Ibnu Abbas berkata bahwa Yahudi Madinah berkata kepada Nabi Saw: “Wahai Muhammad, bagaimana Tuhanmu mendengar doa?” Kemudian Allah menurunkan ayat ini”. (Muhammad Nawawi Al-Jawi, At-Tafsirul Munir li Ma’alimit Tanzil, [Beirut, Darul Fikr], juz II, halaman 43).

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 186 Ayat 186 surat Al-Baqarah menjelaskan dengan tegas kedekatan Allah terhadap hamba-hamba-Nya, terutama dalam mengabulkan doanya. Bahkan kedekatan Allah digambarkan lebih dekat dari urat nadi hamba-Nya. Namun, maksud dari makna dekat tersebut bukan dekat dilihat dari tempatnya, melainkan dekat dalam mendengar dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Abu Hayyan dalam tafsirnya menjelaskan “Maksud dekat yang dinisbatkan kepada Allah bukanlah dekat dalam segi tempat. Yang dimaksud dekat di sini ialah ungkapan Allah yang mendengar doa hamba-Nya, cepat dalam mengijabahi permintaan hamba yang meminta kepada-Nya. Perumpaan mudahnya, Allah dalam mengabulkan doa seperti orang yang dekat dari orang yang ​​​​​​berdoa kepada-Nya. Karena kedekatan jarak tersebut Allah mengabulkan doanya.” (Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith, [Beirut, Darul Fikr:1432 H/2010 M], juz II, halaman 205).

 

Abu Musa berkata: “Kemudian Nabi mendekat dan bersabda: ”Wahai umat manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli ataupun tidak ada. Sungguh kalian berdoa pada Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dzat yang kalian berdoa kepada-Nya lebih dekat kepada kalian dari leher kendaraannya”. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil Azhim, [Riyadh, Dar Thayyibah lin Nasyri wa Tauzi’: 1999 M/ 1420 H], juz I, halaman 506).

Setiap hamba yang merasa dekat dengan Allah maka akan senantiasa berdo’a kepada Allah dengan niat ibadah dan sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.

Adapun arahan Syekh Abdul Qadir dalam menjelaskan enam hal yang berkaitan dengan tata cara yang ideal ketika berdoa, yaitu:

1.    Membentangkan kedua tangan dengan posisi menengadahkan telapak tangan


2.    Mendahulukan memuji kepada Allah


3.    Lalu membaca shalawat kepada Rasulullah


4.    Menghaturkan permohonan kepada Allah


5.    Wajah tidak memandang ke arah langit


6.    Mengusapkan telapak tangan ke wajah


Tata cara ini merupakan anjuran dari Syekh Abdul Qadir Al-Jilani agar ketika seseorang berdoa kepada Allah tidak mengabaikan etika berdoa. Sebab berdoa termasuk ibadah yang memiliki kaitan erat seorang hamba kepada Allah.

Intinya, berdoa bukan semata-mata agar permintaan segera dikabulkan, akan tetapi berdoa adalah sikap hati seseorang dalam menghambakan dirinya kepada Allah dan bentuk keterbatasan serta ketidakmampuan seseorang di hadapan Allah.

Mengutip Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar menyebutkan 10 adab berdoa. Hal ini menunjukkan betapa sakralitas ibadah doa.

Pertama, kita menantikan waktu-waktu mulia seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga terakhir dalam setiap malam, dan waktu sahur.

Kedua, kita memanfaatkan kondisi-kondisi istimewa untuk berdoa seperti saat sujud, saat dua pasukan berhadap-hadapan siap tempur, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat dan sesudahnya.

Ketiga, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan mengusap wajah sesudah berdoa.

Keempat, mengatur volume suara agar tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu rendah.

Kelima, menghindari kalimat bersajak dalam doa karena dikhawatirkan justru melewati batas dalam berdoa. Prinsipnya tidak berlebihan dalam penggunaan kata-kata saat berdoa.

Keenam, berdoa dengan penuh ketundukkan, kekhusyukan, dan ketakutan kepada Allah SWT.

Ketujuh, mantap hati dalam berdoa, meyakini pengabulan doa, dan menaruh harapan besar dalam berdoa. Sufyan bin Uyaynah mengatakan, sadar akan kondisi dirimu jangan sampai menghalangimu untuk berdoa kepada-Nya. Allah, kata Sufyan, tetap menerima permohonan Iblis yang tidak lain adalah makhluk-Nya yang paling buruk.

Kedelapan, meminta terus menerus dalam berdoa.

Kesembilan, membuka doa dengan lafal zikir. Kita dianjurkan untuk membuka doa dengan pujian dan shalawat. Demikian pula ketika mengakhiri doa.

Kesepuluh, tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah SWT dengan cara mematuhi segala aturan agama. Pasal sepuluh ini yang sangat penting.

العاشر : وهو أهمها والأصل في الإجابة ، وهو التوبة ، ورد المظالم ، والإقبال على الله تعالى

Artinya: “Pasal kesepuluh, ini pasal terpenting dan cukup mendasar dalam pengabulan doa, yaitu tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah SWT,” (Lihat An-Nawawi, Al-Adzkar Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 372). Wallahu a‘lam.

 

 

 

 

 


 


No comments:

Post a Comment